44. AR ROQIB (Dzat Yang Maha Mengawasi) Allah adalah Dzat Yang Maha Mengawasi. Artinya segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita akan selalu diawasi tentang bagaimana menggunakannya. Karena Dia berharap dengan pemberianNya tersebut akan menambah kedekatan kita kepadaNya. Oleh sebab itu dalam hidup ini hendaklah kita selalu merasa bahwa apapun yang diberikan Allah akan selalu diawasi. Akan tetapi dalam kenyataannya kita sering melupakan hal tersebut dan merasa bahwa Allah tidak mengawasi kita tentang bagaimana menggunakan pemberian-pemberianNya, sehingga tidak ada satu ikatan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan ikatan tersebut terputus dikarenakan kita tidak bisa merasakan bahwa selalu diawasi oleh Allah. Seseorang yang merasa diawasi oleh Allah akan merasa malu jika pemberian tersebut tidak digunakan sesuai dengan apa yang telah di syareatkan oleh Allah dan rasulNya. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak merasa diawasi oleh Allah cenderung menggunakan pemberian-pemberian tersebut untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Seseorang yang tidak merasa diawasi disebabkan ia tidak menyadari bahwa apapun yang dapat ia terima adalah pemberian Allah. Ia selalu merasa bahwa apapun yang dapat ia terima adalah karena hasil usahanya sendiri. Maka hal seperti ini mengakibatkan ia tidak perduli dengan Allah. Pengawasan Allah disini bukan berarti Dia ingin mencari-cari kesalahan hamba-hambaNya, akan tetapi adalah untuk menyelamatkan hamba-hambaNya jikalau sang hamba salah dalam mengelola pemberian-pemberian Allah tersebut. Allah selalu mengawasi kita tentang apa yang kita ucapkan dan perbuat. Oleh sebab itu hendaknya kita berhati-hati. Karena tidak ada satupun yang luput dari pengawasanNya. Tujuan Allah mengawasi bukan mencari-cari kesalahan hambaNya, tetapi untuk meluruskan hambanya apabila berbuat salah sehingga bisa selamat nanti diakhirat. Maka dari itu seharusnya kita ridho dan bersyukur. Apabila dalam hidup ini kita melakukan suatu kesalahan akan mendapat kemudhoratan-kemudhoratan. Dan seringan-ringannya adalah dicabutnya rasa nikmat dalam beribadah (terasa hampa atau tidak merasakan kekhusyu’an). Dan apabila mendapatkan kemudhoratan jangan sekali-kali menyalahkan siapapun. Baik itu kondisi, keadaan atau orang lain, tetapi salahkanlah diri kita sendiri karena tidak amanah. Seharusnya dengan Ar RoqibNya Allah ini kita merasa aman dan merasa ringan dalam beragama. Dan hendaknya kita pasrahkan hidup ini hanya kepadaNya. Artinya apabila melakukan kesalahan memohon kepada Allah agar diberi peringatan, sehingga kita bisa segera kembali kepada jalan yang lurus. Ibaratnya kita ini anak kecil yang disuruh orang tua membelikan sebungkus rokok. Sebagai seorang anak kita takut kalau ada yang mengganggu. Tetapi orang tua kita mengatakan : “Jangan takut, karena aku selalu mengawasimu. Kalau terjadi apa-apa berteriaklah meminta tolong kepadaku”. Sebagai anak yang baik tentunya kita berani dan merasa aman. Akan tetapi kalau kita punya keinginan yang jahat (ingin korupsi) tentunya tidak mau diawasi oleh orang tua. Seperti inilah sebetulnya Ar RoqibNya Allah terhadap hamba-hambaNya. Oleh sebab itu hendaknya kita tanamkan dalam hati kita bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak, ucapan dan bisikan hati kita. Dan Dia juga selalu siap menolong apabila kita mengalami permasalahan. Sebagai contohnya kita diganggu (digoda) oleh syetan. Ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita dan mintalah pertolongan kepadaNya, karena Dia Al Muhaimin (Dzat Yang Maha Memelihara). Apabila kita terkena mudhorat mintalah pertolongan kepadaNya, karena Dia Ad Dhor (Dzat Yang Maha Memberi Mudhorat) dan hanya Dia yang bisa melepaskannya. Apabila kita kesulitan dalam hal makan mintalah pertolongan kepadaNya, karena Dia Al Muqith (Dzat Yang Maha Memberi Makan). Apabil kita telah melakukan kesalahan mohonlah ampun kepadaNya, karena Dia Al Ghoffar dan Al Goffur. Jadi seluruh Asma’ul Husna ini selalu berkaitan, sehingga apabila kita sudah faham semuanya baru bisa kenal dengan Allah. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang beriman hidupnya tidak pernah takut (khawatir) karena dia punya Allah yang selalu mengawasinya, sehingga dia bergantung penuh kepadaNya. Makanya didalam Al Qur’an banyak ayat yang menjelaskan bahwa Allah bersama orang-orang beriman dan orang-orang bersabar. Pengawasan Allah yang pertama sekali diberikan berupa kegelisahan atau ketidak tenangan didalam jiwa, pada saat sang hamba melakukan kesalahan. Akan tetapi perlu digaris bawahi kegelisahan disini masalah akhirat bukan masalah dunia. Sebelum adanya peringatan. Karena orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dengan benar jiwa pasti tenang. Apabila kegelisahan didalam jiwa tidak bisa membuat kita kembali kejalan yang benar, maka Allah akan menurunkan peringatan-peringatanNya. Dan apabila dengan peringatan-peringatan tersebut masih belum membuat kita kembali kejalan yang benar, maka Allah akan menurunkan azabNya. Akan tetapi orang-orang yang akan menerima azab yang sudah keterlaluan dalam kesesatannya. Oleh sebab itu yang paling berbahaya diri kita berbuat salah tetapi jiwa kita tenang-tenang saja dan tidak menerima peringatan. Oleh sebab itu apabila kita berbuat salah tetapi jiwa kita tenang-tenang saja dan tidak mendapat peringatan dari Allah, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah kita termasuk orang-orang yang tidak menerima petunjuk (dibiarkan sesat) atau sudah terkunci mati hati kita. Karena peringatan-peringatan Allah diberikan hanya kepada orang-orang yang masih diinginkan untuk diselamatkan. Allah Ta’ala akan mengawasi segala pemberianNya yang telah Dia berikan kepada hamba-hambaNya dengan harapan agar hambaNya tidak salah didalam mengelolanya. Pengawasan Allah Ta’ala disini bukan untuk mencari-cari kesalahan hambaNya, akan tetapi untuk menjaga agar hambaNya tidak terjerumus dari jalan yang lurus. Dan apabila hambaNya mengalami suatu kesulitan, maka Allah Ta’ala siap untuk membantunya. Karena Allah Ta’ala sangat mengharapkan agar dengan pemberianNya tersebut seorang hamba bisa semakin dekat kepadaNya. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita khawatir didalam menjalani kehidupan ini, karena Allah Ta’ala selalu mengawasi kita. Dalam hidup ini terkadang Allah Ta’ala memberikan kekurangan-kekurangan dan kesulitan-kesulitan. Hal ini bukan berarti Allah Ta’ala kejam. Akan tetapi Dia menginginkan agar kiranya hambaNya merasa butuh kepadaNya, bergantung kepadaNya dan meminta tolong kepadaNya. Akan tetapi kita sering kali merasa mampu menyelesaikan sendiri segala permasalahan yang kita hadapi sehingga melupakan Allah Ta’ala. Padahal Allah Ta’ala selalu menunggu kapan hamba-hambaNya memohon pertolonganNya. Oleh sebab itu dalam hidup ini lakukanlah segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan dan jauhilah segala apa yang dilarangNya dan jangan sekali-kali takut dengan gangguan-gangguan yang menghalagi kita. Karena Allah Ta’ala senantiasa mengawasi dan menyiapkan diriNya untuk menolong kita. Ibaratnya ada anak kecil yang diperintahkan orang tuanya untuk membeli sebungkus rokok. Akan tetapi sang anak merasa takut jika ada sesuatu yang membahayakannya dijalan. Setelah itu bapaknya berkata : “Jangan kamu takut, karena aku akan selalu mengawasimu dan jika ada apa-apa mintalah tolong kepadaku, maka aku akan menolongmu”. Tentunya sang anak akan merasa tenang dan bergantung penuh kepada orang tuanya tersebut. Kenapa dalam hidup ini kita sering kali menyakiti Allah Ta’ala dan melakukan kedurhakaan kepadaNya? Padahal Allah Ta’ala sangat baik kepada kita, yang telah mencukupi segala kebutuhan kita, menjaga kita, mengawasi kita dan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Pernahkah kita berkeinginan untuk menyenangkan Allah Ta’ala dan membuat Dia tersenyum dengan perbuatan kita? Oleh sebab itu hiduplah sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala dan jangan sekali-kali sekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Jika kita belum bisa menyenangkan Allah Ta’ala, minimal jangan sekali-kali menyakiti Dia. Sesuatu yang menyakitkan Allah Ta’ala dan membuat Allah Ta'ala murka adalah mensekutukanNya dengan sesuatu selain Dia. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak pemberian Allah Ta’ala yang kita gunakan untuk menambah kedekatan kita kepadaNya, sehingga Allah Ta’ala menambah pemberianNya? dan seberapa banyak pemberian Allah Ta’ala yang justru membuat kita bertambah jauh dari Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala mengurangi pemberianNya? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang hanya mengadu kepada-Mu ketika kami mendapatkan kesulitan. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa apapun yang dia lakukan selalu diawasi oleh Allah Ta'ala. Dan dia juga yakin bahwa apabila dia dalam kesulitan atau mengalami gangguan, maka Allah Ta'ala siap untuk membantunya. Sehingga dia tidak pernah takut atau ragu didalam melakukan ketaqwaan. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa apabila mendapatkan kesulitan tidak pernah mengadu kepada orang lain. Akan tetapi dia mengadu hanya kepada Allah Ta'ala. Oleh sebab itu didalam hidupnya dia tidak pernah merasa sendiri, karena dia merasa selalu bersama Allah Ta'ala. Kalaupun dia bercerita kepada manusia tentang permasalahan yang dia hadapi, semata-mata dia hanya bermusyawarah. Sedangkan kebergantungan hatinya tetap kepada Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami tidak mengadukan kesulitan yang kami hadapi kepada manusia, kecuali hanya bermusyawarah. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah mengadu kepada Allah Ta'ala atas permasalahan yang dia hadapi, maka masalah hasilnya akan dia serahkan kepada Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak merasa ragu, karena dia yakin Allah Ta'ala selalu mengawasinya dan siap untuk membantunya. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun hasil yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan menyelesaikan masalahnya atau tidak. Bahkan apabila masalah yang dihadapinya belum selesai, maka dia sangat bersyukur. Karena dia bisa terus berdekatan, mengadu dan bersimpuh dihadapan Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Ar Roqib Apabila sudah menjadi kholifah, maka dalam kehidupannya ia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala sehingga membuat ia takut untuk melakukan kemaksiatan. Dan ia tidak pernah memutuskan sesuatu sebelum mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala. Kemudian terhadap sesama manusia, ia selalu menyiapkan diri untuk membantu manusia dikala manusia mendapatkan kesulitan. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Ar Roqib Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam mengawasi dan memberikan peringatan serta membantu kesulitan-kesulitan manusia, agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Engkau tidak pernah meninggalkan orang-orang yang berada dalam kesulitan.